Minggu, 26 Juni 2016

[CERPEN] Black Phantom by annisdinda


Title                 :  Black Phantom (Ilusi Hitam)
Author             :  annisdinda
Genre              :  Misteri, fantasi
  

Black Phantom
(Ilusi Hitam)
          
            Aku terbangun dengan napas yang putus-putus dan keringat yang membanjiri sekujur tubuhku. Mimpi buruk ini lagi. Ya, lima hari belakangan ini, tidur malamku selalu diganggu oleh datangnya mimpi buruk itu. Dan anehnya, aku selalu terbangun di
waktu yang sama. Jam dua dini hari. Mimpi itu dengan jelas menempel di kepalaku. Dalam mimpiku itu, aku menuju ke sebuah tempat kegelapan yang tak ada penerangan sama sekali. Tempat yang seperti tak ada ujungnya. Aku selalu berjalan kearah yang sama di setiap mimpiku. Lurus tanpa ingin berbelok. Entah kenapa, seperti ada magnet yang menarikku untuk melewati jalan itu. Aku terus berjalan hingga menemukan sosok itu. Sosok dalam balutan jubah hitam yang berdiri sekitar tiga meter dari tempatku berdiri dan membelakangiku. Aku tak pernah mengetahui bagaimana rupa sosok itu. Ketika kucoba untuk mendekati sosok itu, aku melihat tanda seperti kalajengking merah yang dapat kulihat di tempat gelap ini yang terletak di punggung tangannya. Dan selalu setelah kulihat kalajengking merah di tangannya itu, aku seperti dihempaskan kembali ke alam nyata, dan akhirnya terbangun dari tidurku dengan kondisi yang berkeringat dan napas putus-putus.


            Keesokan harinya, setelah melanjutkan tidurku yang sempat terganggu karena mimpi itu, aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Aku mulai menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan yang di sana sudah ada mommy dan daddy yang menungguku. Aku menyapa mereka dan mencium kedua pipi mereka. Kami makan dalam keheningan, sampai suaraku memecahkan keheningan itu.
“Ehm.. mom, aku memimpikan mimpi itu lagi.” Kataku sambil memainkan sendok yang ada di genggamanku. Sebelumnya, aku memang telah menceritakan perihal mimpiku itu pada mommy. Tapi, ia hanya berpendapat bahwa itu hanya sekedar mimpi dan aku tak harus mengingat maupun memikirkannya. Mommy menghela napas ketika mendengar cerita tentang mimpi burukku itu lagi.
Honey, itu hanya sebuah mimpi. Jangan kau pikirkan terlalu keras, jangan berkhayal yang tidak-tidak dan jangan lagi membaca novel-novel horor misterimu itu, agar mimpi burukmu itu cepat pergi dari kepala manismu itu.” Ucap mom sambil mengelus puncak kepalaku. Aku memberengut mendengar nasihatnya. Tiba-tiba dad menyahut pembicaraan ini.
“Apa yang kau mimpikan sayang?” Tanyanya dengan nada penasaran.
“Lima hari ini, Nat selalu memimpikan mimpi yang sama, dad. Dan itu mimpi buruk. Nat selalu melihat sosok berjubah hitam dan di punggung tangannya ada tanda kalajengking merah. Tapi begitu Nat ingin melihat wajahnya, Nat seperti terdorong ke dunia nyata lagi, dan akan terbangun karena mimpi itu tepat pukul dua.” Ucapku menggebu-gebu pada daddy. Hening sejenak. Aku melihat kerutan di dahi dad dan ada segurat rasa khawatir tergambar di mukanya.
“Jangan-jangan… emh, dad akan menanyakan mimpi burukmu itu pada teman daddy, sweety. Semoga saja dugaan dad tentang mimpimu itu tidak benar.”
daddy mengetahui tentang mimpiku?’ pikiran itu memenuhi otakku setelah mendengar kata-kata dad sebelum ia berangkat ke kantor setelah mencium dahiku tadi. Akhirnya aku menyusul kepergian daddy dan berangkat ke sekolah setelah berteriak memanggil mom yang sedang di lantai atas yang sepertinya tak mendengar teriakanku. Akhirnya aku memutuskan langsung pergi ke luar dan menemui Pak Sam yang merupakan sopir keluargaku.
            Aku duduk di balkon kamarku dan membaca novelku yang belum selesai kubaca. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku kira itu hanya karena angin malam yang menusuk kulitku karena aku hanya mengenakan baju tipis dan celana pendek. Tapi pikiranku itu buyar ketika aku merasa ada seseorang yang mengawasiku entah di mana. Kuberanikan untuk melihat sekeliling dan menemukan mata biru jernih itu. Aku terbelalak kaget melihatnya. Mata itu mengawasiku dari rumah kosong yang persis di depan kamarku. Ia seperti berdiri di balik jendela yang berdebu itu. Aku hanya bisa melihat mata biru beningnya diantara kegelapan rumah itu. Aku tak berkedip melihatnya yang juga melihatku dengan tajam. Jantungku berdebar tak tentu. Bulu kudukku semakin meremang. Mungkin karena ketakutanku pada mata biru itu yang terus menatapku tajam. Akhirnya kuputuskan untuk masuk kembali ke dalam kamarku dengan tergesa dan menutup rapat-rapat pintu yang menghubungkan kamarku dengan balkon. Ketika akan kututup tirai yang masih terbuka di dekat pintu itu, aku masih melihat mata biru jernih itu yang masih mengawasi setiap gerak-gerikku. Akupun segera membaringkan tubuhku di ranjang dan menenggelamkan seluruh tubuhku ke dalam selimut.
            Beberapa malam ini mimpi burukku itu telah menghilang. Tidurku menjadi normal kembali. Setiap malam aku selalu ke luar dan akan duduk di balkon kamarku dan memperhatikan mata biru jernih itu yang menatapku dan akupun yang menatapnya. Aku tak tahu entah ke mana perginya rasa takutku. Mungkin rasa penasaranlah yang menghilangkannya. Aku begitu penasaran dengan sosok itu yang aku pikir adalah seorang pria. Entah kenapa ketika melihat matanya, jantungku berdebar tak menentu. Bukan. Ini bukan rasa takutku terhadap sosok itu. Mata itu, seperti menarik perhatianku terhadapnya. Aku tak akan bisa mengalihkan tatapanku lagi ketika sudah melihatnya. Seperti ada magnet di matanya yang akan menarik mataku untuk tetap melihatnya. Mataku mengerjap kaget ketika mendengar jeritan yang memekik tragis terdengar entah dari mana. Seperti jeritan kesakitan. Aku mengira-ngira siapakah yang menjerit di tengah malam seperti ini. Lalu, aku mengembalikan tatapanku ke balik jendela rumah tua di depanku lagi. Aku syok melihat sosoknya dengan mata biru itu masih menatapku tetapi kali ini, aku bisa melihat hidung dan mulutnya. Aku membuka mulutku lebar-lebar tak percaya dengan yang kulihat. Hell. Aku yakin sebelum-sebelumnya aku hanya bisa melihat mata birunya itu. Aku merinding memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di kepalaku. Aku melihatnya lagi, bibirnya tampak menyeringai jahat dan matanya tetap melihatku dengan tajam. Akupun bergegas meninggalkannya dengan ketakutan menaungiku.
            Esok harinya, mom menceritakan padaku bahwa ada tetangga kami yang rumahnya di paling ujung jalan meninggal tadi malam. ‘Apa mungkin jeritan itu?’ pikirku dalam hati dan tiba-tiba tubuhku menegang. Aku teringat novel misteri yang kubaca. Di situ diceritakan bahwa sosok kegelapan akan memangsa korbannya di malam bulan purnama.
Mom, apakah tadi malam adalah malam bulan purnama?”
“Iya sayang, kenapa kau bertanya seperti itu?”
Aku terhenyak mendengar jawaban mom. Apa mungkin sosok mata biru itu adalah sosok kegelapan seperti yang diceritakan di novel itu? Apakah ia yang menyebabkan kematian tetanggaku? Aku merinding memikirkan hal itu. Lalu, akankah ada korban lagi di bulan purnama yang akan datang?
            Hari demi hari berlalu. Dan setiap bulan purnama tiba, kabar kematian selalu muncul di pagi harinya. Kematian tetangga-tetanggaku. Dan aku meyakini si sosok mata biru itulah pelakunya. Setiap ada korban berjatuhan, anggota badan sosok bermata biru itu akan bertambah. Dahulu ia hanya mempunyai mata biru jernih itu, lalu setelah kematian pertama tetangga ujung jalan itu, sosok hitam tersebut mendapatkan hidung dan mulutnya. Dan kali ini, ia telah mempunyai kepala dan tubuh yang tegap. Wajahnya sekarang juga telah terlihat oleh mataku. Seluruh anggota tubuhnya adalah kombinasi dari orang-orang yang telah menjadi korbannya. Sekarang di kompleks rumahku, hanya ada beberapa rumah yang masih ada penghuninya, lebih tepatnya tiga. Dua rumah di dekat pertigaan, dan rumahku!!?? Begitu menyadarinya, aku segera mencari mommy dan daddy. Mereka sedang duduk santai menonton televisi. Aku tahu, di balik sikap santai mereka, ada perasaan was-was dan ketakutan yang besar di baliknya mengetahui para tetangga yang tiba-tiba mati secara misterius. Ya, aku memang belum menceritakan perihal pengetahuanku tentang makhluk siluman atau apapun sebutannya di rumah kosong depan rumahku. Aku takut jika aku menceritakannya hanya dianggap omong kosong dan ujung-ujungnya, aku akan dilarang untuk membaca novel-novel misteri koleksiku. Aku duduk di samping mommy. Mereka memperhatikanku dengan senyum lemah menempel di bibir mereka.
Mommy, daddy… aku takut.” Ujarku dengan memainkan jari-jari lentikku. Mommy mengelus puncak kepalaku dengan sayang dan akhirnya memelukku. “Tak apa sayang, jangan termakan gosip-gosip mengerikan itu. Mereka para tetangga kita mungkin memang sudah ditakdirkan untuk mati seperti itu.” Kata mommy dengan nada yang lemah. Aku tahu, mommy  hanya ingin membuatku tenang dan merasa aman. Dan aku tahu, mommy sendiri pun tak yakin dengan apa yang barusaja dikatakannya.
Mom, apa lebih baik kita mengatakannya kepada Nat?” Tanya daddy tiba-tiba. Mommy hanya menghela napas lelah dan akhirnya mengangguk dengan raut muka yang terlihat sangat sedih.
“Sayang, kita sebenarnya dalah sosok reinkarnasi dari jaman kerajaan Shakeswood. Dan kau dulu adalah Princess Claire yang terlahir untuk menyelamatkan dunia ini dari Black Phantom. Black Phantom ingin menguasai dunia dengan kejahatannya. Ia ingin menjadikan dunia manusia menjadi dunia hitam dan menjadikan ia sendiri sebagai pemimpin dunia hitam itu. Sayangnya, Princess Claire dan Black Phantom adalah dua jiwa yang telah ditakdirkan untuk menjadi satu. Singkatnya, mereka ditakdirkan menjadi mate (pasangan). Sangat sulit bagi Princess Claire untuk memerangi Black Phantom dan memusnahkannya. Ya, karena Black Phantom adalah sebagian dari dirinya sendiri, separuh jiwanya. Akhirnya, Princess Claire menyerah dan tunduk pada Black Phantom. Namun, kejahatan memang tak mengenal ketulusan dan rasa cinta. Black Phantom tak tahu diri dan merasa menang karena Princess Claire telah tunduk di bawah kuasanya. Karena sifat iblisnya, ia membunuh Princess Claire dan meminum darahnya. Alhasil, Black Phantom menjadi makhluk abadi. Dan di sinilah kau, Nat. Kau dilahirkan dari rahim mommy untuk membenahi kesalahan Princess Claire dahulu. Black Phantom sudah memunculkan dirinya kali ini. Ya, di mimpi burukmu itulah dia memunculkan diri pertama kali. Dan benar, dia juga sosok yang berada di balik jendela berdebu depan rumah kita. Dia yang membunuh tetangga-tetangga kita. Darah Princess Claire yang ia minum menjadikannya abadi, tetapi ia tetap menjadi makhluk tak kasat mata. Ia mengincarmu Nat, karena ia tahu, kau adalah sosok reinkarnasi yang terakhir dari Princess Claire. Perlu kau ketahui bahwa sosok reinkarnasi Princess Claire sebelum-sebelumnya juga tak kuasa untuk memusnahkan Black Phantom. Mereka semua tak kuasa menahan sakit jika separuh jiwanya musnah. Black Phantom ingin menaklukkanmu dan membuatmu bertekuk lutut terhadapnya seperti reinkarnasi Princess Claire yang sebelum-sebelumnya. Setelah itu, ia akan membunuhmu. Ia bisa membunuhmu jika ia berubah menjadi sosok manusia terlebih dahulu. Maka alasan ia membunuh tetangga-tetangga kita adalah untuk mengambil jiwanya dan menjadikan satu sehingga ia bisa sedikit demi sedikit berubah menjadi sosok manusia dengan mengambil organ-organ mereka. Setelah ia sepenuhnya menjadi manusia, ia akan melemahkanmu dengan cinta palsunya, Nat. Ia memang licik dengan menggunakan kekuatan takdir yang mempersatukanmu dengannya sebagai pisau untuk menusukmu perlahan-lahan. Maka, kau tak boleh percaya dengan cinta itu. Mungkin takdir memang menciptakannya sebagai sebagian dari dirimu. Tapi, mungkin takdir juga tak mengijinkan kalian untuk saling bersama di dunia fana ini, tunggulah takdir benar-benar mempertemukan kalian di surga atau di lain kesempatan ketika keadaan berubah, Nat. Akan ada hal yang indah setelah semuanya berakhir, Nat. Maka kau harus mengendalikan dirimu darinya.”
Wajahku sangat pucat karena syok mendengar penjelasan daddy yang panjang. Aku merasakan mommy yang memelukku dengan menangis. Akupun membalas pelukannya. Air mata tak terasa mengalir dari kedua mataku. Aku segera melepaskan pelukan mommy dan menghapus air mataku. Aku berpaling menghadap daddy.
Dad, bagaimana cara agar ia bisa musnah?” Tanyaku dengan menggigit tepi bibir bawahku.
Daddy tak bisa menjawabnya sayang. Tanyakan pada hatimu. Rasa cintamu padanyalah yang akan membantumu. Jangan kau hilangkan perasaan cintamu itu, hanya tekanlah perasaan itu dan jangan biarkan perasaan itu menguasai pikiran logismu.”
            Hari setelah penjelasan daddy tentang siapa diriku sebenarnya dan siapa itu Black Phantom membuatku berubah menjadi gadis pemurung. Aku tak pernah ke luar kamar mulai hari itu. aku muak dengan kehidupanku. Kenapa? Kenapa harus aku yang diberi tanggung jawab ini? Aku tak akan bisa melakukannya. Toh, reinkarnasi Princess Claire yang lain juga bertekuk lutut padanya. Aku tak pernah lagi ingin melihat sosoknya. Aku muak melihatnya. Aku hanya di sini, di dalam kamarku, menunggu giliranku untuk takluk terhadapnya dan menerima kematian darinya, yang merupakan belahan jiwaku sendiri. Apakah aku punya dosa sebesar itu hingga Tuhan membuat garis kehidupanku sepelik ini? Aku menangis di keheningan malam ini. Ingin rasanya menghabiskan stok air mataku agar esok harinya aku tak bisa menangis lagi meratapi nasib. Lama-kelamaan, kesadaranku terserap, dan masuk ke alam mimpi. Di mimpiku itu, aku kembali masuk ke tempat kegelapan yang tanpa ujung itu yang lama tak kusinggahi. Bedanya, kakiku kali ini memaksaku untuk melangkah ke kanan, bukan lurus lagi. Aku berjalan dan terus berjalan hingga aku mendengar suara lembut seorang wanita yang memanggil namaku. Aku menolehkan kepalaku ke sumber suara itu. Berdirilah di sana sosok dengan wajah yang identik denganku tetapi mengenakan pakaian ala kerajaan dahulu. Aku membelalak kaget melihatnya. Ia tersenyum begitu manis dan hangat. Ia mengulurkan tangannya bermaksud menarikku mendekat. Akupun mendekat ke arahnya. Ia langsung memelukku dengan sangat erat. Sangat nyaman berada di pelukannya. Hangat dan merasa terlindungi. Suaranya kembali memecah keheningan.
“Aku Claire, Natalie. Kau adalah sosok reinkarnasiku yang terakhir.” Bisiknya yang masih tetap memelukku.
“Kau tahu, aku dan semua sosok reinkarnasiku termasuk kau diberi tugas yang sangat sangat berat. Takdir seolah mempermainkan kita. Benar kan?” Aku hanya menjawab pertanyannya dengan anggukan kecil.
“Tapi, aku dan reinkarnasiku sebelum kau selalu tunduk pada takdir dan berakhir dengan menyerah bertekuk lutut terhadapnya. Kami semua terlalu pengecut dan hanya memikirkan perasaan tanpa logika, hingga tak bisa menyelamatkan dunia dari sosok kejam itu. Itu semua memang kesalahan kami yang tak bisa termaafkan. Kau bisa marah padaku kali ini. Tapi, aku mohon benahilah kesalahan kami dan musnahkanlah sosok kejam itu dari dunia, Natalie. Nasib dunia ini ada di tanganmu. Aku tak berharap kau akan menjadi sosok pengecut seperti kami. Hadapilah ia. Tekan perasaanmu. Demi dunia ini. Demi kita. Demi ayah dan ibumu.” Aku mendongakkan kepalaku dan bertemu dengan matanya yang sama persis dengan mataku.
“Aku ingin melakukannya. Aku hanya sedikit takut.” Ia tersenyum terhadap perkataanku.
“Kau tak perlu takut sayang. Ada kami di belakangmu yang akan menuntunmu untuk melawannya. Kau tak perlu takut pada iblis sepertinya. Ketulusan hati dan kesucian jiwa akan selalu menang di manapun mengalahkan kejahatan.”
“Lalu, bagaimana aku melawannya?”
“Kalajengking merah itu, Natalie. Di punggung tangan kirinya. Pisahkan punggung tangan kirinya dari lengannya.” Dengan jawaban itu, aku seperti tertarik dengan perlahan meninggalkan tempat itu. Tapi aku sempat mendengarnya lagi berbicara.
“Pada akhirnya, cinta memang butuh pengorbanan Natalie.”
            Hari ini adalah malam bulan purnama. Aku tahu, hal itu akan terjadi lagi. Kematian kedua tetanggaku sekaligus. Dan sekarang sempurnalah bentuk tubuhnya. Aku dapat merasakan energinya yang semakin membesar. Aku memang melihatnya kemarin malam. Aku berdiri di balkon kamarku. Memandangnya yang juga memandangku dengan tajam seperti biasa. Tak ada ekspresi di wajahnya. Tak bisa kupungkiri, sosoknya yang kini berdiri di balik jendela berdebu itu terlihat sangat tampan dengan mata biru jernihnya. Jantungku berdebar dengan sangat kencang menyadari hal itu. ia menyeringai. Tampaknya ia mengetahui bagaimana kondisi jantungku akibat mengagumi sosoknya tadi. Aku segera masuk ke dalam kamarku untuk menyembunyikan muka merahku. Aku merenung. Bagaimana aku akan memusnahkannya kalau dari jauh saja ketika aku melihatnya, jantungku sudah melompat-lompat dengat lincahnya. ‘Claire, kuatkan aku.’ Ungkapku dalam hati.
Malam hari itu juga, aku turun ke bawah dan menemui mommy dan daddy. Mereka menangis dan memelukku dengan sangat erat seakan mereka akan kehilanganku. Aku akan melakukannya sekarang. Aku mengantongi sebuah pisau dapur di saku belakang celana jeans pendek yang kukenakan. Aku keluar rumah dengan tatapan mommy dan daddy yang tetap tertuju ke arahku. Aku tak menolehkan kepalaku lagi ke arah mereka. Takut akan merubah keputusanku kali ini. Aku berjalan dengan ditemani cahaya lampu yang terpasang di luar gerbang rumahku menuju rumah kosong itu. Aku mulai melangkah memasuki gerbang usang depan rumah itu. suara gerbang yang berkarat merusak keheningan malam. Tiba-tiba terdengar suara pintu utama yang berderit membuka. Aku agak kaget mengetahui hal itu. Tapi setelah menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali, keberanianku muncul kembali. Hawa di dalam rumah itu sangat mengerikan ditambah dengan angin yang sedang berembus dengan kencangnya. Banyak debu bertebaran di  dalamya. Ya, memang seperti sarang hantu. Aku dikagetkan dengan suara berat yang agak serak.
Welcome ma love. (selamat datang cintaku).” Aku langsung menolehkan kepalaku ke sumber suara itu, dan menemukan sosok yang selama ini hanya berada di balik jendela berdebu yang selalu menatapku dengan tajam berdiri di depanku, tepatnya satu meter dari tempatku berdiri. Dia mengenakan jeans hitam dan kaos hitam yang dilapisi jaket kulit. Aku tak tahu pakaian siapa yang ia gunakan. Tapi, kuakui aku terpesona dengan penampilannya kali ini. Dengan rambut yang acak-acakan dan dengan tatapan mata birunya yang tajam, ia bisa membuat jantungku seperti habis berlari marathon. Oh geez. Tak seharusnya aku malah memujinya di waktu seperti ini. ‘Ingat Nat, kau tak boleh termakan oleh rasa cinta sial itu.’ Ucapku dalam hati.
Hi to you too (halo juga).” Aku menjawab sapaannya dengan seringaian di bibirku.
“Kau pasti tahu kan, apa yang membawaku ke sini menghadapmu?” Ia hanya tertawa licik.
“Aku akan memusnahkanmu!” Kataku dengan menggebu-gebu. Aku langsung berlari ke arahnya dan menyiapkan pisau yang tadi kusiapkan dari rumah. Aku menerjang tubuhnya dengan mudah. Tubuhnya terguling di lantai berdebu dengan tubuhku yang berada di atasnya dengan memegang pisau. Aku dapat merasakan energinya sangat lemah kali ini, hingga ia tak bisa menghindari terjanganku. Aku teringat kembali dengan mimpi yang hari sebelumnya kudapat di tidur malamku.

-Flashback-
Aku bertemu dengan Claire lagi di kegelapan itu. Ia memberikan seulas senyum yang sangat lembut seperti sebelumnya. Di sana, ia memberitahuku kelemahan Black Phantom. Salah satunya adalah, energi dan kekuatannya akan melemah apabila aku berada di dekatnya. kekuatan gelapnya akan melemah akibat takdir yang mengikat kita diantara perasaan cinta ini, walaupun ia mengelaknya. Kelemahannya adalah aku. Sama sepertiku. Ia adalah kelemahanku juga. Claire juga menceritakan bahwa sosok Black Phantom adalah sosok semu yang jahat yang menyembunyikan sosok yang sebenarnya. Ia terbelenggu dalam sosok jahat itu.
-End of flashback-
            Aku berusaha menusukkan pisau itu di tangan kirinya, tapi kedua tangannya mencegah pergerakanku. Walaupun energinya melemah, tapi ia adalah seorang pria yang pasti akan menang jika dihadapkan denganku yang seorang wanita. Pisau yang kugenggam akhirnya terlempar jauh di belakangku. Akupun berlomba dengannya untuk bisa mendatkan pisau itu kembali. Sayangnya, aku melupakan satu hal bahwa ia masih bisa berpindah tempat tanpa terdeteksi olehku. Ia dengan cepat mengambil pisau itu dan mengarahkannya ke arahku. Ia perlahan berjalan menuju kearahku dan akupun berjalan mundur merasa terintimidasi oleh pisau yang dibawanya. Aku memejamkan mataku sangat erat. Kurasakan punggungku terasa dingin karena tertempel pada dinding. ‘Maafkan aku Claire. Aku sepertinya tak akan berhasil kali ini.’ Tak terasa, kurasakan air mata mengalir dari kedua mataku yang masih terpejam rapat. Tak kupungkiri, aku merasa takut. Takut akan kematianku yang sebentar lagi akan merenggut nyawaku. Takut pada pisau tajam yang dibawanya menusuk pada tubuhku. Kuberanikan menatap  untuk yang terakhir kalinya pada mata biru jernih itu. Air mata tak bisa berhenti mengalir. Tiba-tiba tangannya berada di pipiku dan menghapus air mataku yang mengalir. Aku tak bisa menekan rasa terkejutku. Tatapannya begitu lembut ketika melakukannya. Aku memegang tangan dinginnya yang masih berada di pipiku dan merasakan tubuhnya menegang seketika. Ia akan menarik tangannya dari genggamanku, tapi aku tak membiarkannya dan malah menggenggamnya di kedua tanganku dengan erat.
“Kau sangat dingin.” Ujarku sambil berusaha menghangatkan tangannya dengan menggosok-gosokkan kedua tanganku di tangannya. Aku tahu ia masih menatapku dengan lekat. Jantungku terus berdebar tak karuan. Aku membawa tangannya menuju jantungku agar ia bisa merasakan bagaimana jantung ini bereaksi jika berada di dekatnya. Ia terkejut dengan aksi spontanku. Mata kami bertemu. Dan kami tak bisa mengalihkan pandangan kami satu sama lain.
“Kau tahu, aku tak bisa mengontrol debaran jantungku hanya dengan melihat matamu. Aku tahu kau sebenarnya bukan seorang iblis. Dan kau tahu, aku akan selalu mencintaimu, Dave.” Aku mengatakannya lagi-lagi dengan air mata yang mengalir deras membanjiri kedua pipiku. Ia agak terhenyak ketika aku menyebut nama itu, namanya. Tangannya yang tadi di dadaku spontan menuju pipiku dan lagi-lagi menghapus air mataku. Aku melihat matanya yang mulai berembun dan dengan perlahan air mata keluar dari salah satu matanya. Aku kaget dengan hal itu. Aku melakukan hal yang sama yaitu menghapus air mata yang keluar dari mata birunya. Lalu entah kenapa, aku memeluknya dengan sangat erat. Aku semakin menangis histeris ketika ia juga membalas pelukanku. Ia mendongakkan wajahku yang berlinangan air mata dan memaksakan untuk menatap matanya yang sembab.
“Natalie, tolong akhiri ini. Aku sangat lelah di bawah kekangan iblis ini. Aku.. aku mencintaimu, Nat.” Selesai menyatakan perasaannya, ia mengalihkan pisau yang tadi digenggamnya ke dalam genggamanku. Aku semakin histeris dengan perlakuannya itu.
“Aku tahu, kau bisa melakukannya, Nat.” Ujarnya lemah sambil mencium dahiku dengan sangat lembut. Ciumannya membuatku lemas dan tak terasa, tangannya mendorong tanganku yang menggenggam pisau ke tangan kirinya dan memotongnya. Aku terhenyak. Aku membekap mulutku tak percaya dengan apa yang kulihat. Tangan kirinya yang terdapat simbol kalajengking merah telah terpisah dari lengannya. Lengannya mengeluarkan banyak sekali darah segar, dan diapun ambruk ke lantai. Akupun menjatuhkan diriku di hadapannya. Aku menangis sangat sangat keras sambil menggenggam tangannya yang telah patah. Aku tahu ia sangat kesakitan. Akupun bisa merasakan setengah jiwaku seperti melayang dan meninggalkan kekosongan di rongga tubuhku yang terasa sangat menyakitkan. Napasnya mulai putus-putus.
“Dave, maafkan aku. Aku tak seharusnya melakukannya. Maafkan aku.” Ucapku histeris dan memeluknya erat. Ia menarikku dari pelukannya dan memandangku dengan senyuman tulus tercetak di bibirnya.
“Ini memang takdir kita, Nat. Biarkan takdir mempertemukan kita lagi apabila memang Ia berkehendak. Di saat itu, aku akan tetap mencintaimu. Maaf.” Dengan itu, Dave mulai memejamkan matanya dan napasnya mulai menghilang. Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya berharap ia akan membuka matanya lagi. Namun, aku sadar, ia memang telah meninggalkanku. Aku seperti dijatuhkan dari langit ketujuh. Sakit tak tertahankan terasa di ulu hatiku. Aku menangis dengan tragis di dadanya. Meluapkan semua kesedihanku di sana. Meluapkan semua kesakitanku. Dalam hati aku meminta pada Tuhan.’Tuhan, ijinkan aku untuk mati bersamanya dan pertemukanlah aku dan dia lagi di suatu tempat yang indah dan kali itu aku berharap kau memberikanku takdir yang indah untuk bersamanya, menyatukan cinta kita.’ Dengan tersenyum, aku melihat wajahnya yang telah damai. Aku merasakan sakit yang tak tertahankan yang berasal dari dalam tubuhku yang tak bisa kutahan. Akhirnya kubaringkan tubuhku di sampingnya dan memeluknya erat sambil memejamkan mataku menahan rasa sakit ini. Perlahan-lahan, aku merasakan napasku berat dan akhirnya kegelapan datang menyapaku.
            ‘Pada akhirnya, kekuatan cinta yang tulus akan meluluhkan hati yang keras dan membuatnya sadar akan cinta itu. Bahkan bisa merubah suatu kejahatan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar