Title
: Black Phantom (Ilusi Hitam)
Author
: annisdinda
Genre
: Misteri, fantasi
Black Phantom
(Ilusi Hitam)
Aku terbangun
dengan napas yang putus-putus dan keringat yang membanjiri sekujur tubuhku.
Mimpi buruk ini lagi. Ya, lima hari belakangan ini, tidur malamku selalu
diganggu oleh datangnya mimpi buruk itu. Dan anehnya, aku selalu terbangun di
waktu yang sama. Jam dua dini hari. Mimpi itu dengan jelas menempel di kepalaku. Dalam mimpiku itu, aku menuju ke sebuah tempat kegelapan yang tak ada penerangan sama sekali. Tempat yang seperti tak ada ujungnya. Aku selalu berjalan kearah yang sama di setiap mimpiku. Lurus tanpa ingin berbelok. Entah kenapa, seperti ada magnet yang menarikku untuk melewati jalan itu. Aku terus berjalan hingga menemukan sosok itu. Sosok dalam balutan jubah hitam yang berdiri sekitar tiga meter dari tempatku berdiri dan membelakangiku. Aku tak pernah mengetahui bagaimana rupa sosok itu. Ketika kucoba untuk mendekati sosok itu, aku melihat tanda seperti kalajengking merah yang dapat kulihat di tempat gelap ini yang terletak di punggung tangannya. Dan selalu setelah kulihat kalajengking merah di tangannya itu, aku seperti dihempaskan kembali ke alam nyata, dan akhirnya terbangun dari tidurku dengan kondisi yang berkeringat dan napas putus-putus.
waktu yang sama. Jam dua dini hari. Mimpi itu dengan jelas menempel di kepalaku. Dalam mimpiku itu, aku menuju ke sebuah tempat kegelapan yang tak ada penerangan sama sekali. Tempat yang seperti tak ada ujungnya. Aku selalu berjalan kearah yang sama di setiap mimpiku. Lurus tanpa ingin berbelok. Entah kenapa, seperti ada magnet yang menarikku untuk melewati jalan itu. Aku terus berjalan hingga menemukan sosok itu. Sosok dalam balutan jubah hitam yang berdiri sekitar tiga meter dari tempatku berdiri dan membelakangiku. Aku tak pernah mengetahui bagaimana rupa sosok itu. Ketika kucoba untuk mendekati sosok itu, aku melihat tanda seperti kalajengking merah yang dapat kulihat di tempat gelap ini yang terletak di punggung tangannya. Dan selalu setelah kulihat kalajengking merah di tangannya itu, aku seperti dihempaskan kembali ke alam nyata, dan akhirnya terbangun dari tidurku dengan kondisi yang berkeringat dan napas putus-putus.
Keesokan harinya, setelah melanjutkan tidurku yang sempat terganggu karena
mimpi itu, aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Aku mulai menuruni tangga
untuk menuju ke ruang makan yang di sana sudah ada mommy dan daddy
yang menungguku. Aku menyapa mereka dan mencium kedua pipi mereka. Kami makan
dalam keheningan, sampai suaraku memecahkan keheningan itu.
“Ehm.. mom, aku
memimpikan mimpi itu lagi.” Kataku sambil memainkan sendok yang ada di
genggamanku. Sebelumnya, aku memang telah menceritakan perihal mimpiku itu pada
mommy. Tapi, ia hanya berpendapat bahwa itu hanya sekedar mimpi dan aku
tak harus mengingat maupun memikirkannya. Mommy menghela napas ketika
mendengar cerita tentang mimpi burukku itu lagi.
“Honey, itu
hanya sebuah mimpi. Jangan kau pikirkan terlalu keras, jangan berkhayal yang
tidak-tidak dan jangan lagi membaca novel-novel horor misterimu itu, agar mimpi
burukmu itu cepat pergi dari kepala manismu itu.” Ucap mom sambil
mengelus puncak kepalaku. Aku memberengut mendengar nasihatnya. Tiba-tiba dad
menyahut pembicaraan ini.
“Apa yang kau
mimpikan sayang?” Tanyanya dengan nada penasaran.
“Lima hari ini,
Nat selalu memimpikan mimpi yang sama, dad. Dan itu mimpi buruk. Nat
selalu melihat sosok berjubah hitam dan di punggung tangannya ada tanda
kalajengking merah. Tapi begitu Nat ingin melihat wajahnya, Nat seperti
terdorong ke dunia nyata lagi, dan akan terbangun karena mimpi itu tepat pukul
dua.” Ucapku menggebu-gebu pada daddy. Hening sejenak. Aku melihat
kerutan di dahi dad dan ada segurat rasa khawatir tergambar di mukanya.
“Jangan-jangan…
emh, dad akan menanyakan mimpi burukmu itu pada teman daddy, sweety. Semoga
saja dugaan dad tentang mimpimu itu tidak benar.”
‘daddy
mengetahui tentang mimpiku?’ pikiran itu memenuhi otakku setelah mendengar
kata-kata dad sebelum ia berangkat ke kantor setelah mencium dahiku
tadi. Akhirnya aku menyusul kepergian daddy dan berangkat ke sekolah
setelah berteriak memanggil mom yang sedang di lantai atas yang
sepertinya tak mendengar teriakanku. Akhirnya aku memutuskan langsung pergi ke
luar dan menemui Pak Sam yang merupakan sopir keluargaku.
Aku duduk di balkon kamarku dan membaca novelku yang belum selesai kubaca.
Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku kira itu hanya karena angin malam yang
menusuk kulitku karena aku hanya mengenakan baju tipis dan celana pendek. Tapi
pikiranku itu buyar ketika aku merasa ada seseorang yang mengawasiku entah di
mana. Kuberanikan untuk melihat sekeliling dan menemukan mata biru jernih itu. Aku
terbelalak kaget melihatnya. Mata itu mengawasiku dari rumah kosong yang persis
di depan kamarku. Ia seperti berdiri di balik jendela yang berdebu itu. Aku
hanya bisa melihat mata biru beningnya diantara kegelapan rumah itu. Aku tak
berkedip melihatnya yang juga melihatku dengan tajam. Jantungku berdebar tak
tentu. Bulu kudukku semakin meremang. Mungkin karena ketakutanku pada mata biru
itu yang terus menatapku tajam. Akhirnya kuputuskan untuk masuk kembali ke
dalam kamarku dengan tergesa dan menutup rapat-rapat pintu yang menghubungkan
kamarku dengan balkon. Ketika akan kututup tirai yang masih terbuka di dekat
pintu itu, aku masih melihat mata biru jernih itu yang masih mengawasi setiap
gerak-gerikku. Akupun segera membaringkan tubuhku di ranjang dan menenggelamkan
seluruh tubuhku ke dalam selimut.
Beberapa malam ini mimpi burukku itu telah menghilang. Tidurku menjadi normal
kembali. Setiap malam aku selalu ke luar dan akan duduk di balkon kamarku dan
memperhatikan mata biru jernih itu yang menatapku dan akupun yang menatapnya.
Aku tak tahu entah ke mana perginya rasa takutku. Mungkin rasa penasaranlah
yang menghilangkannya. Aku begitu penasaran dengan sosok itu yang aku pikir
adalah seorang pria. Entah kenapa ketika melihat matanya, jantungku berdebar
tak menentu. Bukan. Ini bukan rasa takutku terhadap sosok itu. Mata itu,
seperti menarik perhatianku terhadapnya. Aku tak akan bisa mengalihkan
tatapanku lagi ketika sudah melihatnya. Seperti ada magnet di matanya yang akan
menarik mataku untuk tetap melihatnya. Mataku mengerjap kaget ketika mendengar
jeritan yang memekik tragis terdengar entah dari mana. Seperti jeritan
kesakitan. Aku mengira-ngira siapakah yang menjerit di tengah malam seperti
ini. Lalu, aku mengembalikan tatapanku ke balik jendela rumah tua di depanku
lagi. Aku syok melihat sosoknya dengan mata biru itu masih menatapku tetapi
kali ini, aku bisa melihat hidung dan mulutnya. Aku membuka mulutku lebar-lebar
tak percaya dengan yang kulihat. Hell. Aku yakin sebelum-sebelumnya aku
hanya bisa melihat mata birunya itu. Aku merinding memikirkan
kemungkinan-kemungkinan yang ada di kepalaku. Aku melihatnya lagi, bibirnya
tampak menyeringai jahat dan matanya tetap melihatku dengan tajam. Akupun
bergegas meninggalkannya dengan ketakutan menaungiku.
Esok harinya, mom menceritakan padaku bahwa ada tetangga kami yang
rumahnya di paling ujung jalan meninggal tadi malam. ‘Apa mungkin jeritan itu?’
pikirku dalam hati dan tiba-tiba tubuhku menegang. Aku teringat novel misteri
yang kubaca. Di situ diceritakan bahwa sosok kegelapan akan memangsa korbannya
di malam bulan purnama.
“Mom,
apakah tadi malam adalah malam bulan purnama?”
“Iya sayang,
kenapa kau bertanya seperti itu?”
Aku terhenyak
mendengar jawaban mom. Apa mungkin sosok mata biru itu adalah sosok
kegelapan seperti yang diceritakan di novel itu? Apakah ia yang menyebabkan
kematian tetanggaku? Aku merinding memikirkan hal itu. Lalu, akankah ada korban
lagi di bulan purnama yang akan datang?
Hari demi hari berlalu. Dan setiap bulan purnama tiba, kabar kematian selalu
muncul di pagi harinya. Kematian tetangga-tetanggaku. Dan aku meyakini si sosok
mata biru itulah pelakunya. Setiap ada korban berjatuhan, anggota badan sosok
bermata biru itu akan bertambah. Dahulu ia hanya mempunyai mata biru jernih
itu, lalu setelah kematian pertama tetangga ujung jalan itu, sosok hitam
tersebut mendapatkan hidung dan mulutnya. Dan kali ini, ia telah mempunyai
kepala dan tubuh yang tegap. Wajahnya sekarang juga telah terlihat oleh mataku.
Seluruh anggota tubuhnya adalah kombinasi dari orang-orang yang telah menjadi
korbannya. Sekarang di kompleks rumahku, hanya ada beberapa rumah yang masih
ada penghuninya, lebih tepatnya tiga. Dua rumah di dekat pertigaan, dan rumahku!!??
Begitu menyadarinya, aku segera mencari mommy dan daddy. Mereka
sedang duduk santai menonton televisi. Aku tahu, di balik sikap santai mereka,
ada perasaan was-was dan ketakutan yang besar di baliknya mengetahui para
tetangga yang tiba-tiba mati secara misterius. Ya, aku memang belum
menceritakan perihal pengetahuanku tentang makhluk siluman atau apapun
sebutannya di rumah kosong depan rumahku. Aku takut jika aku menceritakannya
hanya dianggap omong kosong dan ujung-ujungnya, aku akan dilarang untuk membaca
novel-novel misteri koleksiku. Aku duduk di samping mommy. Mereka
memperhatikanku dengan senyum lemah menempel di bibir mereka.
“Mommy, daddy…
aku takut.” Ujarku dengan memainkan jari-jari lentikku. Mommy mengelus
puncak kepalaku dengan sayang dan akhirnya memelukku. “Tak apa sayang, jangan
termakan gosip-gosip mengerikan itu. Mereka para tetangga kita mungkin memang
sudah ditakdirkan untuk mati seperti itu.” Kata mommy dengan nada yang
lemah. Aku tahu, mommy hanya ingin membuatku tenang dan merasa
aman. Dan aku tahu, mommy sendiri pun tak yakin dengan apa yang barusaja
dikatakannya.
“Mom,
apa lebih baik kita mengatakannya kepada Nat?” Tanya daddy tiba-tiba. Mommy
hanya menghela napas lelah dan akhirnya mengangguk dengan raut muka yang
terlihat sangat sedih.
“Sayang, kita
sebenarnya dalah sosok reinkarnasi dari jaman kerajaan Shakeswood. Dan
kau dulu adalah Princess Claire yang terlahir untuk menyelamatkan dunia
ini dari Black Phantom. Black Phantom ingin menguasai dunia dengan
kejahatannya. Ia ingin menjadikan dunia manusia menjadi dunia hitam dan
menjadikan ia sendiri sebagai pemimpin dunia hitam itu. Sayangnya, Princess
Claire dan Black Phantom adalah dua jiwa yang telah ditakdirkan
untuk menjadi satu. Singkatnya, mereka ditakdirkan menjadi mate (pasangan).
Sangat sulit bagi Princess Claire untuk memerangi Black Phantom
dan memusnahkannya. Ya, karena Black Phantom adalah sebagian dari
dirinya sendiri, separuh jiwanya. Akhirnya, Princess Claire menyerah dan
tunduk pada Black Phantom. Namun, kejahatan memang tak mengenal
ketulusan dan rasa cinta. Black Phantom tak tahu diri dan merasa menang
karena Princess Claire telah tunduk di bawah kuasanya. Karena sifat
iblisnya, ia membunuh Princess Claire dan meminum darahnya. Alhasil, Black
Phantom menjadi makhluk abadi. Dan di sinilah kau, Nat. Kau dilahirkan dari
rahim mommy untuk membenahi kesalahan Princess Claire dahulu. Black
Phantom sudah memunculkan dirinya kali ini. Ya, di mimpi burukmu itulah dia
memunculkan diri pertama kali. Dan benar, dia juga sosok yang berada di balik
jendela berdebu depan rumah kita. Dia yang membunuh tetangga-tetangga kita.
Darah Princess Claire yang ia minum menjadikannya abadi, tetapi ia tetap
menjadi makhluk tak kasat mata. Ia mengincarmu Nat, karena ia tahu, kau adalah
sosok reinkarnasi yang terakhir dari Princess Claire. Perlu kau ketahui
bahwa sosok reinkarnasi Princess Claire sebelum-sebelumnya juga tak
kuasa untuk memusnahkan Black Phantom. Mereka semua tak kuasa menahan
sakit jika separuh jiwanya musnah. Black Phantom ingin menaklukkanmu dan
membuatmu bertekuk lutut terhadapnya seperti reinkarnasi Princess Claire
yang sebelum-sebelumnya. Setelah itu, ia akan membunuhmu. Ia bisa membunuhmu
jika ia berubah menjadi sosok manusia terlebih dahulu. Maka alasan ia membunuh
tetangga-tetangga kita adalah untuk mengambil jiwanya dan menjadikan satu
sehingga ia bisa sedikit demi sedikit berubah menjadi sosok manusia dengan
mengambil organ-organ mereka. Setelah ia sepenuhnya menjadi manusia, ia akan
melemahkanmu dengan cinta palsunya, Nat. Ia memang licik dengan menggunakan
kekuatan takdir yang mempersatukanmu dengannya sebagai pisau untuk menusukmu
perlahan-lahan. Maka, kau tak boleh percaya dengan cinta itu. Mungkin takdir
memang menciptakannya sebagai sebagian dari dirimu. Tapi, mungkin takdir juga
tak mengijinkan kalian untuk saling bersama di dunia fana ini, tunggulah takdir
benar-benar mempertemukan kalian di surga atau di lain kesempatan ketika
keadaan berubah, Nat. Akan ada hal yang indah setelah semuanya berakhir, Nat.
Maka kau harus mengendalikan dirimu darinya.”
Wajahku sangat
pucat karena syok mendengar penjelasan daddy yang panjang. Aku merasakan
mommy yang memelukku dengan menangis. Akupun membalas pelukannya. Air
mata tak terasa mengalir dari kedua mataku. Aku segera melepaskan pelukan mommy
dan menghapus air mataku. Aku berpaling menghadap daddy.
“Dad,
bagaimana cara agar ia bisa musnah?” Tanyaku dengan menggigit tepi bibir
bawahku.
“Daddy
tak bisa menjawabnya sayang. Tanyakan pada hatimu. Rasa cintamu padanyalah yang
akan membantumu. Jangan kau hilangkan perasaan cintamu itu, hanya tekanlah
perasaan itu dan jangan biarkan perasaan itu menguasai pikiran logismu.”
Hari setelah penjelasan daddy tentang siapa diriku sebenarnya dan siapa
itu Black Phantom membuatku berubah menjadi gadis pemurung. Aku tak
pernah ke luar kamar mulai hari itu. aku muak dengan kehidupanku. Kenapa?
Kenapa harus aku yang diberi tanggung jawab ini? Aku tak akan bisa melakukannya.
Toh, reinkarnasi Princess Claire yang lain juga bertekuk lutut padanya.
Aku tak pernah lagi ingin melihat sosoknya. Aku muak melihatnya. Aku hanya di
sini, di dalam kamarku, menunggu giliranku untuk takluk terhadapnya dan
menerima kematian darinya, yang merupakan belahan jiwaku sendiri. Apakah aku
punya dosa sebesar itu hingga Tuhan membuat garis kehidupanku sepelik ini? Aku
menangis di keheningan malam ini. Ingin rasanya menghabiskan stok air mataku
agar esok harinya aku tak bisa menangis lagi meratapi nasib. Lama-kelamaan,
kesadaranku terserap, dan masuk ke alam mimpi. Di mimpiku itu, aku kembali
masuk ke tempat kegelapan yang tanpa ujung itu yang lama tak kusinggahi.
Bedanya, kakiku kali ini memaksaku untuk melangkah ke kanan, bukan lurus lagi.
Aku berjalan dan terus berjalan hingga aku mendengar suara lembut seorang
wanita yang memanggil namaku. Aku menolehkan kepalaku ke sumber suara itu.
Berdirilah di sana sosok dengan wajah yang identik denganku tetapi mengenakan
pakaian ala kerajaan dahulu. Aku membelalak kaget melihatnya. Ia tersenyum
begitu manis dan hangat. Ia mengulurkan tangannya bermaksud menarikku mendekat.
Akupun mendekat ke arahnya. Ia langsung memelukku dengan sangat erat. Sangat
nyaman berada di pelukannya. Hangat dan merasa terlindungi. Suaranya kembali
memecah keheningan.
“Aku Claire,
Natalie. Kau adalah sosok reinkarnasiku yang terakhir.” Bisiknya yang masih
tetap memelukku.
“Kau tahu, aku
dan semua sosok reinkarnasiku termasuk kau diberi tugas yang sangat sangat
berat. Takdir seolah mempermainkan kita. Benar kan?” Aku hanya menjawab
pertanyannya dengan anggukan kecil.
“Tapi, aku dan
reinkarnasiku sebelum kau selalu tunduk pada takdir dan berakhir dengan
menyerah bertekuk lutut terhadapnya. Kami semua terlalu pengecut dan hanya
memikirkan perasaan tanpa logika, hingga tak bisa menyelamatkan dunia dari
sosok kejam itu. Itu semua memang kesalahan kami yang tak bisa termaafkan. Kau
bisa marah padaku kali ini. Tapi, aku mohon benahilah kesalahan kami dan
musnahkanlah sosok kejam itu dari dunia, Natalie. Nasib dunia ini ada di
tanganmu. Aku tak berharap kau akan menjadi sosok pengecut seperti kami.
Hadapilah ia. Tekan perasaanmu. Demi dunia ini. Demi kita. Demi ayah dan
ibumu.” Aku mendongakkan kepalaku dan bertemu dengan matanya yang sama persis
dengan mataku.
“Aku ingin
melakukannya. Aku hanya sedikit takut.” Ia tersenyum terhadap perkataanku.
“Kau tak perlu
takut sayang. Ada kami di belakangmu yang akan menuntunmu untuk melawannya. Kau
tak perlu takut pada iblis sepertinya. Ketulusan hati dan kesucian jiwa akan
selalu menang di manapun mengalahkan kejahatan.”
“Lalu,
bagaimana aku melawannya?”
“Kalajengking
merah itu, Natalie. Di punggung tangan kirinya. Pisahkan punggung tangan
kirinya dari lengannya.” Dengan jawaban itu, aku seperti tertarik dengan
perlahan meninggalkan tempat itu. Tapi aku sempat mendengarnya lagi berbicara.
“Pada akhirnya,
cinta memang butuh pengorbanan Natalie.”
Hari ini adalah malam bulan purnama. Aku tahu, hal itu akan terjadi lagi.
Kematian kedua tetanggaku sekaligus. Dan sekarang sempurnalah bentuk tubuhnya.
Aku dapat merasakan energinya yang semakin membesar. Aku memang melihatnya
kemarin malam. Aku berdiri di balkon kamarku. Memandangnya yang juga
memandangku dengan tajam seperti biasa. Tak ada ekspresi di wajahnya. Tak bisa
kupungkiri, sosoknya yang kini berdiri di balik jendela berdebu itu terlihat
sangat tampan dengan mata biru jernihnya. Jantungku berdebar dengan sangat
kencang menyadari hal itu. ia menyeringai. Tampaknya ia mengetahui bagaimana
kondisi jantungku akibat mengagumi sosoknya tadi. Aku segera masuk ke dalam
kamarku untuk menyembunyikan muka merahku. Aku merenung. Bagaimana aku akan
memusnahkannya kalau dari jauh saja ketika aku melihatnya, jantungku sudah
melompat-lompat dengat lincahnya. ‘Claire, kuatkan aku.’ Ungkapku dalam hati.
Malam hari itu
juga, aku turun ke bawah dan menemui mommy dan daddy. Mereka
menangis dan memelukku dengan sangat erat seakan mereka akan kehilanganku. Aku
akan melakukannya sekarang. Aku mengantongi sebuah pisau dapur di saku belakang
celana jeans pendek yang kukenakan. Aku keluar rumah dengan tatapan mommy
dan daddy yang tetap tertuju ke arahku. Aku tak menolehkan kepalaku lagi
ke arah mereka. Takut akan merubah keputusanku kali ini. Aku berjalan dengan
ditemani cahaya lampu yang terpasang di luar gerbang rumahku menuju rumah
kosong itu. Aku mulai melangkah memasuki gerbang usang depan rumah itu. suara
gerbang yang berkarat merusak keheningan malam. Tiba-tiba terdengar suara pintu
utama yang berderit membuka. Aku agak kaget mengetahui hal itu. Tapi setelah
menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali, keberanianku muncul kembali.
Hawa di dalam rumah itu sangat mengerikan ditambah dengan angin yang sedang
berembus dengan kencangnya. Banyak debu bertebaran di dalamya. Ya, memang
seperti sarang hantu. Aku dikagetkan dengan suara berat yang agak serak.
“Welcome ma
love. (selamat datang cintaku).” Aku langsung menolehkan kepalaku ke sumber
suara itu, dan menemukan sosok yang selama ini hanya berada di balik jendela berdebu
yang selalu menatapku dengan tajam berdiri di depanku, tepatnya satu meter dari
tempatku berdiri. Dia mengenakan jeans hitam dan kaos hitam yang
dilapisi jaket kulit. Aku tak tahu pakaian siapa yang ia gunakan. Tapi, kuakui
aku terpesona dengan penampilannya kali ini. Dengan rambut yang acak-acakan dan
dengan tatapan mata birunya yang tajam, ia bisa membuat jantungku seperti habis
berlari marathon. Oh geez. Tak seharusnya aku malah memujinya di waktu
seperti ini. ‘Ingat Nat, kau tak boleh termakan oleh rasa cinta sial itu.’
Ucapku dalam hati.
“Hi to you
too (halo juga).” Aku menjawab sapaannya dengan seringaian di bibirku.
“Kau pasti tahu
kan, apa yang membawaku ke sini menghadapmu?” Ia hanya tertawa licik.
“Aku akan
memusnahkanmu!” Kataku dengan menggebu-gebu. Aku langsung berlari ke arahnya
dan menyiapkan pisau yang tadi kusiapkan dari rumah. Aku menerjang tubuhnya
dengan mudah. Tubuhnya terguling di lantai berdebu dengan tubuhku yang berada
di atasnya dengan memegang pisau. Aku dapat merasakan energinya sangat lemah
kali ini, hingga ia tak bisa menghindari terjanganku. Aku teringat kembali
dengan mimpi yang hari sebelumnya kudapat di tidur malamku.
-Flashback-
Aku bertemu
dengan Claire lagi di kegelapan itu. Ia memberikan seulas senyum yang sangat
lembut seperti sebelumnya. Di sana, ia memberitahuku kelemahan Black Phantom.
Salah satunya adalah, energi dan kekuatannya akan melemah apabila aku berada di
dekatnya. kekuatan gelapnya akan melemah akibat takdir yang mengikat kita
diantara perasaan cinta ini, walaupun ia mengelaknya. Kelemahannya adalah aku.
Sama sepertiku. Ia adalah kelemahanku juga. Claire juga menceritakan bahwa
sosok Black Phantom adalah sosok semu yang jahat yang menyembunyikan
sosok yang sebenarnya. Ia terbelenggu dalam sosok jahat itu.
-End of
flashback-
Aku berusaha menusukkan pisau itu di tangan kirinya, tapi kedua tangannya
mencegah pergerakanku. Walaupun energinya melemah, tapi ia adalah seorang pria
yang pasti akan menang jika dihadapkan denganku yang seorang wanita. Pisau yang
kugenggam akhirnya terlempar jauh di belakangku. Akupun berlomba dengannya
untuk bisa mendatkan pisau itu kembali. Sayangnya, aku melupakan satu hal bahwa
ia masih bisa berpindah tempat tanpa terdeteksi olehku. Ia dengan cepat
mengambil pisau itu dan mengarahkannya ke arahku. Ia perlahan berjalan menuju
kearahku dan akupun berjalan mundur merasa terintimidasi oleh pisau yang
dibawanya. Aku memejamkan mataku sangat erat. Kurasakan punggungku terasa
dingin karena tertempel pada dinding. ‘Maafkan aku Claire. Aku sepertinya tak
akan berhasil kali ini.’ Tak terasa, kurasakan air mata mengalir dari kedua
mataku yang masih terpejam rapat. Tak kupungkiri, aku merasa takut. Takut akan
kematianku yang sebentar lagi akan merenggut nyawaku. Takut pada pisau tajam
yang dibawanya menusuk pada tubuhku. Kuberanikan menatap untuk yang
terakhir kalinya pada mata biru jernih itu. Air mata tak bisa berhenti
mengalir. Tiba-tiba tangannya berada di pipiku dan menghapus air mataku yang
mengalir. Aku tak bisa menekan rasa terkejutku. Tatapannya begitu lembut ketika
melakukannya. Aku memegang tangan dinginnya yang masih berada di pipiku dan
merasakan tubuhnya menegang seketika. Ia akan menarik tangannya dari genggamanku,
tapi aku tak membiarkannya dan malah menggenggamnya di kedua tanganku dengan
erat.
“Kau sangat
dingin.” Ujarku sambil berusaha menghangatkan tangannya dengan
menggosok-gosokkan kedua tanganku di tangannya. Aku tahu ia masih menatapku
dengan lekat. Jantungku terus berdebar tak karuan. Aku membawa tangannya menuju
jantungku agar ia bisa merasakan bagaimana jantung ini bereaksi jika berada di
dekatnya. Ia terkejut dengan aksi spontanku. Mata kami bertemu. Dan kami tak
bisa mengalihkan pandangan kami satu sama lain.
“Kau tahu, aku
tak bisa mengontrol debaran jantungku hanya dengan melihat matamu. Aku tahu kau
sebenarnya bukan seorang iblis. Dan kau tahu, aku akan selalu mencintaimu,
Dave.” Aku mengatakannya lagi-lagi dengan air mata yang mengalir deras
membanjiri kedua pipiku. Ia agak terhenyak ketika aku menyebut nama itu,
namanya. Tangannya yang tadi di dadaku spontan menuju pipiku dan lagi-lagi
menghapus air mataku. Aku melihat matanya yang mulai berembun dan dengan
perlahan air mata keluar dari salah satu matanya. Aku kaget dengan hal itu. Aku
melakukan hal yang sama yaitu menghapus air mata yang keluar dari mata birunya.
Lalu entah kenapa, aku memeluknya dengan sangat erat. Aku semakin menangis
histeris ketika ia juga membalas pelukanku. Ia mendongakkan wajahku yang
berlinangan air mata dan memaksakan untuk menatap matanya yang sembab.
“Natalie,
tolong akhiri ini. Aku sangat lelah di bawah kekangan iblis ini. Aku.. aku
mencintaimu, Nat.” Selesai menyatakan perasaannya, ia mengalihkan pisau yang
tadi digenggamnya ke dalam genggamanku. Aku semakin histeris dengan
perlakuannya itu.
“Aku tahu, kau
bisa melakukannya, Nat.” Ujarnya lemah sambil mencium dahiku dengan sangat
lembut. Ciumannya membuatku lemas dan tak terasa, tangannya mendorong tanganku
yang menggenggam pisau ke tangan kirinya dan memotongnya. Aku terhenyak. Aku
membekap mulutku tak percaya dengan apa yang kulihat. Tangan kirinya yang
terdapat simbol kalajengking merah telah terpisah dari lengannya. Lengannya
mengeluarkan banyak sekali darah segar, dan diapun ambruk ke lantai. Akupun
menjatuhkan diriku di hadapannya. Aku menangis sangat sangat keras sambil
menggenggam tangannya yang telah patah. Aku tahu ia sangat kesakitan. Akupun
bisa merasakan setengah jiwaku seperti melayang dan meninggalkan kekosongan di
rongga tubuhku yang terasa sangat menyakitkan. Napasnya mulai putus-putus.
“Dave, maafkan
aku. Aku tak seharusnya melakukannya. Maafkan aku.” Ucapku histeris dan
memeluknya erat. Ia menarikku dari pelukannya dan memandangku dengan senyuman
tulus tercetak di bibirnya.
“Ini memang
takdir kita, Nat. Biarkan takdir mempertemukan kita lagi apabila memang Ia
berkehendak. Di saat itu, aku akan tetap mencintaimu. Maaf.” Dengan itu, Dave
mulai memejamkan matanya dan napasnya mulai menghilang. Aku mengguncang-guncangkan
tubuhnya berharap ia akan membuka matanya lagi. Namun, aku sadar, ia memang
telah meninggalkanku. Aku seperti dijatuhkan dari langit ketujuh. Sakit tak
tertahankan terasa di ulu hatiku. Aku menangis dengan tragis di dadanya. Meluapkan
semua kesedihanku di sana. Meluapkan semua kesakitanku. Dalam hati aku meminta
pada Tuhan.’Tuhan, ijinkan aku untuk mati bersamanya dan pertemukanlah aku dan
dia lagi di suatu tempat yang indah dan kali itu aku berharap kau memberikanku
takdir yang indah untuk bersamanya, menyatukan cinta kita.’ Dengan tersenyum,
aku melihat wajahnya yang telah damai. Aku merasakan sakit yang tak tertahankan
yang berasal dari dalam tubuhku yang tak bisa kutahan. Akhirnya kubaringkan
tubuhku di sampingnya dan memeluknya erat sambil memejamkan mataku menahan rasa
sakit ini. Perlahan-lahan, aku merasakan napasku berat dan akhirnya kegelapan
datang menyapaku.
‘Pada akhirnya, kekuatan cinta yang tulus akan meluluhkan hati yang keras
dan membuatnya sadar akan cinta itu. Bahkan bisa merubah suatu kejahatan.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar